Menu Atas

Iklan

Menu Bawah


Rabu, 04 Januari 2023, Januari 04, 2023 WIB
Last Updated 2023-01-10T13:40:54Z
DaerahFotoNasionalnewstrending

Sistem Politik Kita "Gagasan Akan Kalah dengan Uang!"

Dwiki Sandy Founder PALI Mengajar


Anak muda memang minim pengalaman, tapi menawarkan masa depan!"


Bryan merupakan seorang anak yang genius, meskipun terlahir dari keluarga yang kurang mampu tapi dia berhasil menginjakkan kaki berkuliah di kampus nomor satu Indonesia berkat kerja kerasnya sendiri. Dia mendapatkan beasiswa dari pemerintah untuk keluarga yang kurang mampu tapi cerdas dan berprestasi. 


Semasa di kampus, Bryan terkenal sebagai anak yang aktif di berbagai kegiatan organisasi, ia menjadi aktivis kampus yang sering turun ke jalan menyuarakan aspirasi masyarakat. Mulai dari demo pimpinan kampus, hingga unjuk rasa di depan istana negara.


Aktivis yang lahir di pedesaan itu berhasil menjadi orang nomor satu di kampusnya dengan memimpin BEM Universitas. Selama kepemimpinannya, Bryan telah menyelesaikan berbagai program kerja, menjalin relasi dengan berbagai tokoh, dan memahami politik Indonesia.


Menjadi aktivis kampus membuatnya sadar akan pentingnya bermanfaat untuk masyarakat. Ia memiliki sebuah prinsip yang diambil dari sebuah hadist, "Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain." Gagasan Bryan selalu menjadi solusi untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang ada.


Setelah berkuliah selama 5 tahun, Bryan akhirnya lulus dari bangku kuliahnya. Ia memiliki impian untuk menjadi politisi muda, karena sudah merasa memiliki pengalaman yang banyak selama di kampus. Ia pun memulai karir politiknya dengan membangun gerakan berbasis sosial-politik di daerah tempat di mana ia dilahirkan. Anak muda yang penuh gagasan itu merasa tanah kelahirannya masih tertinggal jauh dari daerah lain. 


Dengan bekal ilmu dan pengalaman selama di kampus ia ingin mengabdikan diri untuk membangun daerahnya menjadi seorang politisi, baginya politik adalah jalan pengabdian.


Akhirnya mahasiswa berprestasi di kampusnya itu bergabung dengan salah satu partai politik guna mengikuti kontestasi politik 2024, dengan berbekal gagasan yang ia rancang, Bryan ingin membangun daerahnya melalui jalan politik gagasan, yang ia beri nama "Dari Politik Gragasan ke Politik Gagasan!" 


Tibalah, pada momen di mana Bryan menyadari sebuah fakta yang begitu miris, bahwa gagasan tidak laku untuk dijadikan dagangan politik pada saat kampanye di tengah masyarakat, sebab konstituen hanya membutuhkan uang, uang, dan uang. Jika tidak ada uang, tidak akan dipilih sekalipun merupakan saudaranya sendiri. Hal itu ia sadari setelah bertemu dengan banyak politisi senior yang pernah menjadi ataupun gagal dalam kontestasi di pemilihan sebelumnya.


Selain itu juga, wacana pemilihan proporsional tertutup mulai digaungkan, ini tentu akan menutup peluang anak muda yang memiliki gagasan untuk mengambil peran menjadi seorang anggota legislatif.


Sistem proporsional tertutup akan lebih menguntungkan partai dan elitenya yang memiliki uang yang besar, apalagi sistem politik kita sekarang sangat transaksional.


Bryan menyadari betul bahwa daerah kelahirannya itu masih banyak hal yang perlu dibenahi dan tingkatkan. Berbagai aspek pendidikan, ekonomi, budaya, sosial-politik, dan lainnya. 


Dia juga terus berjuang mendampingi, mengadvokasi, dan membantu masyarakat. Tidak hanya itu, dia juga membantu memberdayakan UMKM. Sudah banyak hal yang ia lakukan setelah lulus kuliah, ia ingin membuat dampak yang lebih besar melalui jalur politik, tapi apa mau dikata, semua itu tidak begitu dianggap penting oleh masyarakat, tanpa uang dia bukan apa-apa atau siapa-siapa. 


"Udahlah, gak laku gagasan di daerah kita ini, semuanya uang, uang, dan uang. Kamu ga ada uang, ga bakal menang!" ujar seorang caleg gagal. 


Faktanya memang anggota dewan yang sekarang terpilih merupakan para "toke" yang sudah memiliki modal untuk bertarung meskipun sebenarnya mereka nihil secara gagasan.


Bryan ingin mencoba peruntungan, tapi karena cost politik yang begitu tinggi sedangkan ia merupakan anak muda yang belum punya apa-apa, kuliah saja menggunakan beasiswa, memutuskan untuk menarik diri dari jalan yang ia sebut sebagai jalan pengabdian itu. 


Ia sadar, sepandai-pandainya merancang program, secemerlangnya gagasan tetap akan kalah dengan orang yang beruang. Ya, juga sadar secara pengalaman politik belum benar-benar banyak, masih minim. Akhirnya Bryan memutuskan untuk mundur, lalu bertekad untuk merdeka secara financial agar kelak ia dapat mewujudkan harapan yang diimpikan itu.


Epilog.


Bryan adalah satu dari banyaknya anak muda yang sebenarnya mampu bersaing dikontestasi politik. Tapi mereka terhalang oleh cost politik yang begitu besar, ditambah wacana pemilihan proporsional tertutup yang menutup kesempatan anak muda untuk berkecimpung menjadi wakil rakyat, transaksional untuk merebutkan nomor urut satu dan dua jelas akan terjadi, itu tentu akan besar-besaran mahar, orang seperti Bryan tidak akan mampu untuk itu, sekali pun ia memiliki gagasan.


Terakhir, sistem politik Indonesia sangat tidak ramah dengan anak muda seperti Bryan. Politik Indonesia sepertinya didesign untuk orang-orang yang mempunyai privilege seperti orang kaya (punya uang banyak), dan anak-anak pejabat. Itu pula yang menjadi sebab anak muda memilih tidak tertarik untuk terlibat dalam politik. Sebagaimana tergambar pada data dari CSIS (Center for Strategic and International Studies), hanya 14,6% anak muda yang memiliki keinginan untuk mencalonkan sebagai anggota DPR/DPRD. 


Kemudian, 14,1% anak muda ingin mencalonkan diri sebagai kepala daerah. 


Sementara, 84,7% anak muda tidak memiliki keinginan mencalonkan diri sebagai anggota DPR/DPRD. Ada pula 85,2% anak muda yang tidak ingin mencalonkan diri sebagai kepala daerah. Survei CSIS juga mengungkapkan, minat anak muda untuk ikut dalam partai politik sangat rendah. Hanya 1,1% anak muda yang saat ini bergabung dengan partai politik. Di sisi lain, persentase anak muda yang ikut dalam organisasi kepemudaan cukup besar, yakni 21,6%. 


Sebagai informasi, CSIS menggelar survei ini dengan melibatkan 1.200 responden berusia 17-39 tahun di Indonesia pada 8-13 Agustus 2022. Survei ini memiliki tingkat toleransi kesalahan (margin of error) sebesar 2,84% dengan tingkat kepercayaan 95%. 


Begitulah satu dari banyaknya gambaran miris politik kita kini, sangat tidak ramah bagi anak muda, sekalipun ia berprestasi dan memiliki gagasan cemerlang tetap akan kalah dengan mereka yang memiliki hubungan. 


Dari Bryan kita belajar...


Tulisan Telah Tayang di www.Inforesei.com

Terkini